Awal


 

                Pernah bangun tidur dengan rasa cemas? Saat akan tidur merasa cemas? Setiap berkegiatan merasa cemas? Saya merasakan itu, dari mata terlelap hingga membuka mata rasa cemas dan kekhawatiran selalu terasa. Saat mengetik ini saya berumur 27 tahun yang akan bertambah umur beberapa bulan lagi usia saya akan bertamabah, 27 tahun dan belum memiliki kerja lagi setalah terkena PHK tahun 2023 silam. Saya beruntung karena memiliki keluarga yang lengkap ada ibu, bapak dan 1 adik laki-laki, namun sayangnya keberuntungan itu disisipi oleh ketidakberentungan karena hanya ibu yang sekarang berumur 56 tahun yang saat ini bekerja alias menjadi tulang punggung keluarga, sisanya? Bapa sudah tidak memiliki pekerjaan karena sudah pensiun saat pandemi Covid, adik laki-laki saya sudah lulus kuliah dan masih mencari pekerjaan juga. Ya betul jika dibaca secara seksama rasa cemas itu hadir karena saat ini masih ibu yang memenuhi kebutuhan kami sekeluarga karena bapak mencari pekerjaan sampingan yang pendapatannya tidak dapat ditentukan, sedangkan saya dan adik saya masih berusaha mencari pekerjaan dan bersaing dengan para pencari kerja lainnya, itu yang membuat saya selalu merasa cemas dalam setiap detiknya.

                Rasa cemas ini juga hadir karena saya memiliki masalah dengan kesehatan mental yaitu anxiety disorder, saya tidak pernah menyalahkan kesehatan mental yang sedang saya alami. Tapi secara sadar kesehatan mental itu mengganggu pola pikir dan kehidupan sehari-hari yang saya jalani. Berbicara terbata-bata, gugup dalam menyampaikan isi pikiran, ketakutan akan masa depan, paranoid, tidak bisa meluapkan emosi, sentimentil, manipulatif dan masih banyak hal negatif dari kesehatan mental yang saya rasakan sampai saat ini. Saya didiagnosa memiliki anxiety disorder sejak tahun 2018, banyak hal yang terjadi yang membuat kesehatan mental itu muncul jika diingat pasti akan dianggap spele tapi pada akhirnya hal di masa lalu itu membuat masalah atau mungkin sedikit hambatan untuk kehidupan ini. Diawali dari masalah gerd tidak kunjung usai walaupun sudah rutin melakukan pengobatan ke dokter penyakit dalam alhasil dokter pun menyarankan untuk datang ke psikiater karena masalahnya bukan di gerd tapi ada di dalam pikiran, alhasil saya pun datang ke psikiater untuk memberikan keluhan yang saya rasakan dan hasilnya seperti yang sudah ceritakan diatas, ya betul dokter mengatakan saya mengidap anxiety disorder. Saat pertama kali diberitahu saya mengidap anxiety disorder saya tidak denial, saya menyetujui nya karena ya memang begitu adanya, namun pastinya ada rasa mengganggu karena dari gejala anxiety disorder itu merubah saya sedikit demi sedikit entah saya yang terlalu mendramatisir atau hanya perasaan saja tapi memang seperti itu adanya.

                Ini hanya prolog, saya hanya ingin memberikan keresahan yang saya alami yang tidak dapat diungkap dengan lewat mulut. Intinya kesehatan mental dan kondisi keluarga yang saat ini sedang kami alami cukup membuat saya merasakan cemas yang sangat berlebih tidak ada waktu untuk merasa tenang, saya hanya ingin kehidupan keluarga kami membaik dalam segala aspek. Saya ingin mendapatkan kerja kembali karena mungkin itu juga akan mengurangi rasa cemas saya tentang masa depan. Saya hanya ingin yang terbaik untuk keluarga dan saya pribadi, orang seperti saya tidak boleh menyerah dengan segala yang sedang terjadi. Jadi munkgin cerita ini akan berlanjut dengan alur yang rapih……

Comments